Islam Ahlussunnah Waljamaa,ah

Cari Blog Ini

Mengenal Allah dengan ilmu-Nya

Photo diambil dari www.whyislam.org

Apabila seorang hamba Allah mengalami kesulitan hidup, maka pertama-tama ia mencoba mengatasinya dengan upayanya sendiri. Bila gagal ia mencari pertolongan kepada sesamanya, khususnya kepada raja, penguasa, hartawan; atau bila dia sakit, kepada dokter. Bila hal ini pun gagal, maka ia berpaling kepada Khaliqnya, Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan berdo'a kepada-Nya dengan kerendah-hatian dan pujian. Bila ia mampu mengatasinya sendiri, maka ia takkan berpaling kepada sesamanya, demikian pula bila ia berhasil karena sesamanya, maka ia takkan berpaling kepada Sang Khaliq.(Futuuhul Ghoib)

Hamba Allah pada saat tertimpa kesusahan hidup,maka langkah pertama ia akan mengatasinya sendiri dengan segala kemampuan dan kekuatannya.Namun ia akan mulai mengendor kemampuan dan kekuatannya ketika segala upayanya sendiri tak mampu mengatasinya,dan ia pun akan mulai mencari solusi baru lewat sesamanya khususnya kepada raja,penguasa atau hartawan.Apabila kesusahan hidupnya masalah kesehatan,ia akan mencari solusi pengobatan kepada dokter atau yang ahli dalam bidang kesehatan.

Setelah segala cara ditempuhnya dan tak juga kunjung hasilnya,hamba Allah mulai mengadu segala kesusahan hidupnya kepada Kholiqnya,Tuhan Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa,dan hamba Allah itupun berdoa kepadaNya dengan segala kerendah hatian dan pujian.

Bila ia mampu mengatasi segala kesusahan hidupnya dengan kemampuan dan upayanya sendiri,ia tak akan mencari solusi kesusahan hidupnya kepada sesamanya.Demikian pula,ketika ia mampu mengatasi kesusahan hidupnya lewat bantuan sesamanya,maka ia tak akan menghadap kepada Sang Kholiqnya.

Kemudian bila tak juga memperoleh pertolongan dari Allah, maka dipasrahkannya dirinya kepada Allah, dan terus demikian, mengemis, berdo'a merendah diri, memuji, memohon dengan harap-harap cemas. Namun, Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa membiarkan ia letih dalam berdo'a dan tak mengabulkannya, hingga ia sedemikian kecewa terhadap segala sarana duniawi. Maka kehendak-Nya mewujud melaluinya, dan hamba Allah ini berlalu dari segala sarana duniawi, segala aktiviti dan upaya duniawi, dan bertumpu pada rohaninya.(Futuuhul Ghoib)

Kemudian apabila hamba Allah sudah mencari solusi permasalahan hidupnya kepada Allah langsung,tetapi tetap tak mendapatkan pertolonganNya,maka jalan yang ia tempuh selanjutnya adalah memasrahkan dirinya sepenuhnya kepadaNya dan terus menerus mengemis,berdoa sambil merendahkan diri,memuji dan memohon dengan rasa penuh harap-harap cemas.Namun demikian,Allah Yang Maha Besar dan Maha Kuasa mengujinya dan membiarkan ia putus asa dalam berdo'a dan tak juga mengabulkan permohonannya,sehingga ia benar-benar kecewa terhadap segala sarana duniawi.Maka kehendak Allah benar-benar terwujud melalui ujian itu,dan hamba Allah ini kemudian meninggalkan segala sarana duniawi,segala aktifitas dan tipu daya keindahan dunia,dan ia bertumpu pada rohaninya dan mengabdikan dirinya seutuhnya kepada Allah Sang Pelepas segala kesusahan hidup.

Pada peringkat ini, tiada terlihat olehnya, selain kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa, dan sampailah dia tentang Keesaan Allah, pada peringkat haqqul yaqin (* tingkat keyakinan tertinggi yang diperoleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati). Bahwa pada hakikatnya, tiada yang melakukan segala sesuatu kecuali Allah; tak ada penggerak tak pula penghenti, selain Dia; tak ada kebaikan, kejahatan, tak pula kerugian dan keuntungan, tiada faedah, tiada memberi tiada pula menahan, tiada awal, tiada akhir, tak ada kehidupan dan kematian, tiada kemuliaan dan kehinaan, tak ada kelimpahan dan kemiskinan, kecuali karena ALLAH.(Futuuhul Ghoib).

Ketika hamba Allah sudah sampai pada peringkat ini(meninggalkan segala tipu daya duniawi dan hanya mengabdikan dirinya kepada Allah),maka tidak terlihat olehnya kecuali kehendak Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa,dan ia sampai pada Keesaan Allah,pada tingkatan haqqul yakin(tingkat keyakinan tertinggi seorang hamba Allah,yang ia peroleh setelah menyaksikan dengan mata kepala dan mata hati).Bahwa kenyataannya tidak ada yang sanggup melakukan segala sesuatu kecuali atas kehendak Allah.Tak ada penggerak maupun penghenti segala sesuatu kecuali Dia(Allah),tak ada kebaikan maupun kejahatan,tak ada pula kerugian maupun keuntungan,tidak ada faedah,tidak ada memberi maupun menahan pemberian,tidak ada awal maupun akhir,tidak ada kehidupan maupun kematian,tidak ada kemuliaan maupun kehinaan,tidak ada kekayaan maupun kemiskinan,semua itu akan terwujud atas kehendak Allah.

Hamba Allah adalah mahluk yang tidak mampu berdiri sendiri tanpa campur tangan Kekuasaan Allah,semua yang terjadi baik buruk maupun baik(menurut pandangan hamba Allah)semata-mata karena kekuasaan Yang Maha Kuasa.Kemuliaan seorang hamba yang dicapai dengan segala kekuatannya,begitupun kehinaan seorang hamba,semua itu atas kehendak dan kekuasaanNya.Hamba Allah hanya mampu berikhtiar dan berdo'a,adapun tercapai maupun tidaknya itu murni atas kehendak dan kekuasaanNya.

Kehidupan dan kematian seorang hamba Allah sudah ditentukan olehNya,si sakit yang segala dokter paling canggihpun dilibatkan untuk membantu mengobatinya tidak akan ada hasilnya secuilpun ketika Allah berkehendak atas kematiannya.Begitu pula kekayaan dan kemiskinan hamba Allah,itu atas kehendak dan kekuasaanNya.Maka tidak patut bagi seorang hamba Allah yang diberi limpahan rizki olehNya lantas menganggap bahwa itu semua tercapai atas murni kerja kerasnya dan melupakan Dzat yang sesungguhnya Maha Memberi.Dan simiskin yang tak kunjung juga diberi limpahan harta olehNya,tidak patut baginya menganggap bahwa Allah pilih kasih,tidak sama sekali.Allah Maha Mengetahui tentang apa yang hamba Allah tidak ketahui.Sesuatu yang baik menurut hamba Allah belum tentu itu baik menurut Allah,tetap husnudzon atas segala kehendakNya,karena sebaik-baik yang menentukan adalah Allah.

Maka di hadapan Allah, ia bagai bayi di tangan perawat, bagai mayat dimandikan, dan bagai bola di tongkat pemain polo, berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan, dan ia merasa tak berdaya. Dengan demikian, ia lepas dari dirinya sendiri, dan melebur dalam kehendak Allah. Maka tak dilihatnya kecuali Tuhannya dan kehendak-Nya, tak didengar dan tak dipahaminya, kecuali Ia. Jika melihat sesuatu, maka sesuatu itu adalah kehendak-Nya; bila ia mendengar atau mengetahui sesuatu, maka ia mendengar firman-Nya, dan mengetahui lewat ilmu-Nya. Maka terkarunialah dia dengan karunia-Nya, dan beruntung lewat kedekatan dengan-Nya, dan melalui kedekatan ini, ia menjadi mulia, ridha, bahagia, dan puas dengan janji-Nya, dan bertumpu pada firman-Nya. Ia merasa enggan dan menolak segala selain Allah, ia rindu dan senantiasa mengingati-Nya; makin mantaplah keyakinannya pada-Nya, Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa. Ia bertumpu pada-Nya, memperolehi petunjuk dari-Nya, berbusana nur ilmu-Nya, dan termuliakan oleh ilmu-Nya. Yang didengar dan diingatnya adalah dari-Nya. Maka segala syukur, puji, dan sembah tertuju kepada-Nya.(Futuuhul Ghoib).

Hamba Allah yang sudah mencapai pada tingkatan haqqul yakin,dihadapan Allah ia merasa bagai bayi ditangan perawat,bagai mayat dimandikan,dan bagai bola di tongkat pemain polo(Bola polo adalah olahraga beregu yang dimainkan diatas kuda dengan tujuan mencetak gol kegawang lawan),berputar dan bergulir dari keadaan ke keadaan yang lain tanpa sanggup menentukan kehendaknya sendiri karena ia merasa tak berdaya untuk itu.

Dengan demikian,ia lepas dari dirinya sendiri dan melebur dalam kehendakNya(Allah).Maka ia tak melihat sesuatu yang lain kecuali Tuhannya dan Kehendaknya,tak didengar dan dipahaminya kecuali
Ia.Jika hamba Allah itu melihat sesuatu,maka sesuatu itu tak lain atas kehendakNya.Begitupun ketika ia mendengar atau mengetahui sesuatu,maka ia mendengar firmanNya dan mengetahui lewat ilmuNya.Maka ia mendapat karunia dengan karuniaNya,dan ia beruntung lewat kedekatan denganNya.Dan lewat kedekatannya dengan Tuhannya ia menjadi mulia,ridho,merasa bahagia dan merasa puas dengan janji-Nya,dan ia selalu bertumpu pada firman-Nya sebagai penuntun dan penunjuk hidupnya.

Ia kemudian menjadi hamba Allah yang merasa enggan dan menolak segala sesuatu selain Allah(meskipun sesuatu itu baik menurut pandangan mahluk Allah),ia rindu dan selalu mengingat-Nya lewat segala perintah-perintahnya.Makin mantaplah ia atas keyakinan pada-Nya,Allah yang Maha Besar lagi Maha Kuasa.Ia menjadi hamba yang bertumpu pada-Nya,memperoleh petunjuk dari-Nya,ia berbusana nur ilmu-Nya dan hidup termuliakan atas ilmu-Nya.Ia hanya mendengar dan mengingat sesuatu yang datang darinya(baik itu perintah untuk taat pada-Nya,atau segala larangan-Nya).Maka segala rasa syukur,puji dan sembah ibadah tertuju hanya kepada-Nya.
Labels: Tauhid

Thanks for reading Mengenal Allah dengan ilmu-Nya. Please share...!

0 Comment for "Mengenal Allah dengan ilmu-Nya"

Back To Top