Islam Ahlussunnah Waljamaa,ah

Cari Blog Ini

Ushul Fiqih bab kedua,Pembahasan annahy(larangan)

Sumber Photo:www.muslim.or.id

Pembahasan ke 2 tentang annahy(larangan)

﴿ المبحث الثانى فى النهي ﴾

وهو طلب الترك من الاعلي الي الادني

فيه قواعد : 

۱. الاصل فى النهي للتحريم الا ما دل الدليل علي خلافه قال تعالى ولا تفسدوا فى الارض بعد اصلاحها.

٢. النهي عن الشيء امربضده. قال تعالى              ••    

٣. الاصل في النهي يدل على فساد المنهي عنه فى العبادة. كالصلاة الحايض والصومها.

٤. النهي يدل على فساد المنهي عنه فى المعاملات اِنْ رجع النهي الي نفس العقد كما فى بيع الحصاة. نهي صلي الله عليه وسلم عن بيع الحصاة رواه مسلم. ان رجع الى امر خارج عن العقد غير لازم فلا. كما فى البيع وقت نداء الجمعة. قال الله تعالى                ...الاية. للاخلال بالسعي الواجب الي الجمعة. والاخلال يوجد بالبيع وبغيره كالأكل.

Terjemah:

Pembahasan Ke - 2 AL-NAHY

Al-Nahy (larangan) adalah tuntutan untuk meninggalkan (suatu pekerjaan) dari atasan kepada bawahannya. 

Pembahasan larangan (al-nahy) meliputi beberapa kaidah sebagai berikut: 
Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan keharaman (sesuatu yang dilarang), kecuali adanya petunjuk (dalil) sebaliknya.

Larangan (al-nahy) akan suatu hal (dapat diartikan sebagai) perintah akan hal-hal yang berlawanan atau kebalikan dari yang dilarang. Allah berfirman QS. al-Baqarah (2):188.
             ••     
Artinya:
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang dalam ibadah. Seperti shalat dan puasanya perempuan yang haidh.

Larangan (al-nahy) pada dasarnya menunjukkan rusaknya sesuatu yang dilarang dalam muamalah. Hal ini terjadi ketika larangan itu dikembalikan kepada kondisi akad (nafs al-'aqd), seperti bai' al-hashot (jual beli dengan cara melemparkan batu kecil atau spekulasi). 

Namun ketika larangan itu dikembalikan kepada sesuatu yang keluar dari transaksi (faktor eksternal) yang tidak tetap, maka sesuatu yang dilarang tersebut tidak rusak. 

Seperti halnya jual beli pada waktu adzan jum'at.
Firman Allah SWT dalam QS. Al-Jum’ah (62):9. 

                       
Artinya :
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. al-Jum'ah 9).

Pembagian Hukum Syari'at

Photo diambil dari:www.muslim.or.id

﴾ الأحكام ﴿ 

الأحكام تسعة : الواجب والمندوب والمباح والحرام والمكروه والصحيح والباطل والرخصة والعزيمة.

فالواجب : مايثاب على فعله ويعاقب على تركه . كالصلوات الخمس وصوم رمضان.

المندوب : مايثاب على فعله ولايعاقب على تركه . كتحية المسجد.

الحرام : مايثاب على تركه ويعاقب على فعله . كالربا وفعل المفسدة

المكروه : مايثاب على تركه ولايعاقب على فعله . كتقديم اليسرى على اليمنى فى الوضوء

المباح : ما لا يثاب على فعله ولايعاقب على تركه . كالنوم فى النهار.

الصحيح : ما يجتمع فيه الركن والشرط

الباطل : ما لا يجتمع فيه الركن والشرط

الركن : ما يتوقف عليه صحة الشيء وكان جزأ منه. كغسل الوجه للوضوء وتكبيرة الاحرام للصلاة

الشرط : ما يتوقف عليه صحة الشيء وليس جزأ منه. كماء مطلق للوضوء وستر العورة للصلاة.

الرخصة : هي الحكم الذى يتغير من سعوبة الى سهولة مع قيام سبب الحكم الاصلي . كجوز الفطر للمسافر لا يجهده الصوم وأكل الميتة للمضطر

العزيمة : هي الحكم كوجوب الصلوابت الخمس وحرمة اكل الميتة لغير المضطر.


Pembagian Hukum Syari'at

Al-Ahkam al-Syar’iy (hukum-hukum syariat) dibagi menjadi sembilan, yaitu: wajib, mandub, mubah, haram, makruh, sahih, bathil, rukhshah dan 'azimah. Adapun definisi masing-masing sembilan hukum tersebut adalah sebagai berikut:
1.Wajib, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan ketika ditinggalkan akan disiksa. Seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.

2.Mandub, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan disiksa. Seperti shalat tahiyat masjid.

3.Haram, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila dikerjakan akan disiksa. Seperti riba dan melakukan kerusakan.

4.Makruh, yaitu sesuatu yang diberi pahala apabila ditinggalkan, tapi tidak disiksa apabila dikerjakan. Seperti mendahulukan bagian yang kiri dalam wudhu.

5.Mubah, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan dan dikerjakan tidak mendapat pahala dan siksa. Seperti tidur siang hari.

6.Shahih, yaitu sesuatu yang didalamnya mencakup rukun dan syarat.Seperti Sholatnya Zaid yang dinyatakan Shahih karena menjalankan semua SYARAT dan RUKUN-nya Sholat.

7.Bathil, yaitu sesuatu yang didalamnya tidak mencakup rukun dan syarat.Seperti Sholatnya Zaid yang dinyatakan Bathil karena meninggalkan SYARAT dan RUKUN-nya Sholat,sehingga Sholatnya dinyatakan tidak sah.

Definisi Rukun

Rukun adalah sesuatu yang menyebabakan sahnya sesuatu (pekerjaan) dan ia merupakan bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) itu. Seperti membasuh wajah dalam berwudhu dan takbiratul ihram dalam shalat.

Definisi Syarat

Adapun syarat adalah sesuatu yang menyebabkan sahnya sesuatu (pekerjaan), namun ia bukanlah bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) tersebut.

8.Rukhshah, yaitu perubahan hukum dari berat menjadi ringan, sedangkan sebab hukum asalnya masih tetap. Seperti diperbolehkannya membatalkan puasa bagi musafir meskipun ia tidak merasa keberatan untuk melanjutkan puasanya. Dan diperbolehkan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa atau dalam kondisi darurat.

9.Azimah, yaitu hukum seperti kewajiban shalat lima waktu dan haramnya memakan bangkai bagi yang tidak terpaksa.

Ushul Fiqih Bab Awal

Photo diambil dari:www.muslim.or.id

القسم الأول﴿ 

﴾فى اصول الفقه

الأصل لغة ما بني عليه غيره كأصل الشجرة أي أساسه وأصل الشجرة أى طرفها الثابت فى الأرض فأصول الفقه أساسه والفرع ما بني عليه غيره كفروع الشجرة لأصلها وفروع الفقه لأصوله

والأصل إصطلاحا يقال على الدليل والقاعدة الكلية كقولهم أصل وجوب الصلاة الكتاب أي الدليل على وجوبها الكتاب قال الله تعالى أقيموا الصلاة...الاية وقولهم إباحة الميتة للمضطر خلافُ الاصل اي مخالف للقاعدة الكلية وهي كل ميتة حرام قال الله تعالى انما حرم عليكم الميتة...الاية

أصول الفقه دليل الفقه على سبيل الاجمال كقولهم : مطلق الأمر للوجوب ومطلق النهي للتحريم ومطلق فعل النبى صلى الله عليه وسلم ومطلق الاجماع ومطلق القياس حجج

الفقه لغة الفهم فقهت كلامك أى فهمته وﺇصطلاحا العلم بالأحكام الشرعية التى طريقها الاجتهاد كالعلم بأن النية فى الوضوء واجبة ونحو ذلك من المسايل الاجتهادية قال النبي صلى الله عليه وسلم " ﺇنما الأعمال بالنية " رواه البخارى. بخلاف العلم بالأحكام التى ليس طريقها الاجتهاد كالعلم بأن الصلوات الخمس واجبة وأن الزنا محرم ونحو ذلك من المسايل القطعية فلا يسمى العلم بما ذكر فقها.

العلم : صفة ينكشف بها المطلوب ﺇنكشافا تاما

والجهل : عدم العلم بالشيء

والظن : الادراك الراجح لأحد الأمرين

والوهم الادراك المرجوح لأحد الأمرين

والشك : الادراك المستوى بين الأمرين

فتردد فى قيام زيد ونفيه على السواء شك ومع رجحان الثبوت والانتفاء ظن ومع مرجوح فى أحدهما وهم والمراد بالعلم فى تعريف الفقه يشمل الظن

"Ushul Fiqih Bab Awal"

Asal (al-ashlu) secara bahasa adalah sesuatu yang menjadi sandaran atau sesuatu yang jadi sumbernya pokok persoalan. Seperti akar yang menjadi dasar tumbuhnya sebuah pohon dan ushul al-fiqh yang menjadi pondasi fiqh atau dasar-dasar hukum dalam fiqih. Sedangkan cabang (al-far'u) adalah sesuatu yang dididrikan diatas sesuatu yang lain atau yang didirikan diatas sesuatu yang menjadi asalnya. Seperti cabang-cabang pohon (batang dan lainnya) yang berdiri diatas akarnya, dan fiqh yang berdiri diatas ushul-nya.

Menurut istilah asal adalah dalil dan kaidah kulliyat(global). Seperti perkataan ulama' bahwa dasar wajibnya shalat adalah al-Kitab (al-Quran). Maksudnya dalil yang mewajibkan shalat adalah al-Quran. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah (2): 43.

وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Artinya : Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk.

Pendapat ulama' yang menyatakan diperbolehkannya memakan bangkai dalam kondisi darurat (emergency), adalah bertentangan dengan kaidah kulliyat yang berbunyi; "kullu mayyitah harām" artinya : setiap bangkai haram hukumnya. Kaidah ini bersumber dari firman Allah SWT. Yang berbunyi :

" " انما حرم عليكم الميتة

Ushul fiqh merupakan dalil fiqh global. Seperti kemutlakan amr (perintah) menunjukkan makna wajib, mutlaknya nahi (larangan) menunjukkan keharaman, mutlaknya perbuatan Nabi (af'al al-Nabi), mutlaknya ijma', dan mutlaknya qiyas yang kesemuanya itu merupakan hujjah.

lafal “fiqh” dalam bahasa Arab mempunyai arti faham (al-fahm). Sedangkan dalam terminologi syar'i, fiqh ialah mengetahui hukum-hukum syari'at yang diperoleh dengan jalan ijtihad. Seperti mengetahui bahwa niat dalam wudhu merupakan suatu kewajiban, dan berbagai permasalahan lain yang masuk dalam ranah ijtihadiyyah(penelitian). Fiqih, berbeda dengan hukum-hukum syari'at yang diketahui tanpa menggunakan metode ijtihad. Seperti mengetahui bahwa shalat lima waktu adalah wajib, perbuatan zina adalah haram, dan berbagai permasalahan lain yang ditetapkan dengan dalil qath'i(dalil yang sudah pasti). Ilmu seperti ini tidak dinamakan fiqih,karena mengetahui sholat lima waktu itu wajib,perbuatan zina itu haram,dan hal-hal lain yang perintah dan larangannya sudah ada ketetapannya dalam Al-Qur'an.

Sedangkan ilmu (العلم) adalah sifat yang dengannya sesuatu yang di kehendaki bisa diketahui dengan sempurna.

contoh : ''Zaid melaksanakan solat dengan benar menurut ilmu fiqih'',dikatakan benarnya sholatnya Zaid karena zaid orang mengetahui syarat rukunnya sholat.Nah....,pengetahuan Zaid dalam babakan solat,sehingga sholatnya Zaid itu benar dinamakan ilmu.

 bodoh (الجهل) adalah tidak adanya pengetahuan akan sesuatu perkara.

 contoh :''Zaid tidak bisa membaca Al-Quran'',nah....,tidak bisanya Zaid dalam membaca Al-Qur'an dinamakan bodoh.

 Dzan (الظن) adalah menilai sesuatu yang lebih kuat dari dua perkara.

 contoh :Zaid menyangka bahwa mangga yang dibeli dipasar,itu antara manis dan asam rasanya.Tetapi Zaid lebih cenderung menyangka bahwa mangga yang dibeli tadi manis rasanya.Nah....,persangkaan Zaid yang cenderung lebih kuat pada MANIS-nya mangga tersebut dinamakan dzan (الظن)

 Wahm (الوهم) adalah menemukan sesuatu yang kurang kuat dari dua perkara.

 contoh :Apakah seseorang bernama Zaid sedang berdiri atau tidak sedang berdiri,ketika mengunggulkan salah satu dari ZAID SEDANG BERDIRI dan TIDAK SEDANG BERDIRI dinamakan wahm(الوهم)

 Syak (الشك) adalah menemukan persamaan pada dua perkara.

contoh :Apakah seseorang bernama Zaid sedang berdiri atau tidak sedang berdiri,ketika antara ZAID SEDANG BERDIRI dan TIDAK SEDANG BERDIRI itu sama-sama kuat dinamakan syak(الشك)

Contoh mudahnya begini:

Keraguan yang timbul tentang antara apakah seseorang bernama Zaid sedang berdiri atau tidak yang sama-sama kuat dinamakan syak, jika lebih unggul salah satunya dinamakan dzan, dan ketika mengunggulkan salah satu antara keadaan Zaid sedang berdiri atau tidak sedang berdiri dinamakan wahm. Dalam kaitan ini, ilmu dalam pengertian fiqih mengandung pengertian dzan (prasangka). Maksudnya, sebagaimana dalam pembahasan selanjutnya, akan diketemukan adanya kaidah yang menyatakan bahwa produk ijtihad sebagai salah satu mekanisme metode penggalian hukum dalam islam masuk dalam kategori zdanniy (prasangka) dan bukannya qath'iy (pasti). 
Back To Top