Islam Ahlussunnah Waljamaa,ah

Cari Blog Ini

Ali bin Abi Thalib dan prestasinya saat menjadi pemimpin

Ilustrasi gambar dari:google.com

Prestasi Ali bin Abi Thalib Ketika Menjadi Pemimpin 

 Sepeninggal Khalifah Usman bin Affan dalam kondisi yang masih perlu diperbaiki dalam pemerintahannya , kaum muslimin meminta Ali bin Abi Thalib untuk menjadi Khalifah. Akan tetapi ada bebarapa tokoh yang menolak usulan tersebut.

 Khalifah Ali bin Abi Thalib melaksanakan langkah-langkah yang dapat dianggap sebagai prestasi yang telah dicapai pada saat menjabat sebagai Khalifah antara lain:
1. Mengganti Pejabat yang Kurang Cakap
 Khalifah Ali bin Abi Thalib menginginkan sebuah pemerintahan yang efektif dan efisien. Oleh karena itu, beliau kemudian mengganti pejabat-pejabat yang kurang cakap dalam bekerja.
Akan tetapi, pejabat-pejabat tersebut ternyata banyak yang berasal dari keluarga Khalifah Usman bin Affan ( Bani Umayah ). Akibatnya, makin banyak kalangan Bani Umayah yang kurang menyukai Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Adapun gubernur baru yang diangkat Khalifah Ali bin Abi Thalib antara lain:

a. Sahl bin Hanif sebagai gubernur Syiria.

b. Usman bin Hanif sebagai gubernur Basrah.

c. Qays bin Sa’ad sebagai gubernur Mesir.

d. Umrah bin Syihab sebagai gubernur Kufah.

e. Ubaidaillah bin Abbas sebagai gubernur Yaman.

2. Membenahi Keuangan Negara ( Baitul Mal ) 
Pada Masa Khalifah Utsman bin Affan, banyak kerabatnya yang diberi fasilitas negara. Khalifah Ali bin Abi Thalib memiliki tanggung jawab untuk membereskan permasalahan tersebut.

Beliau menyita harta para pejabat tersebut yang diperoleh secara tidak benar.Harta tersebut kemudian disimpan di Baitul Mal dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat.
Kebijakan tersebut mendapat tantangan dan perlawanan dari mantan penguasa dan kerabat Utsman bin Affan. Mereka menghasut para shahabat yang lain untuk menentang kebijakan Ali bin Abi Thalib.Dan melakukan perlawanan terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib. Akibatnya terjadi peperangan seperti perang Jamal dan perang Shiffin.

3. Memajukan Bidang Ilmu Bahasa 

Pada saat Khalifah Ali bin Abi Thalib memegang pemerintahan , Wilayah Islam sudah mencapai India. Pada saat itu , penulisan huruf hijaiyyah belum dilengkapi dengan tanda baca, seperti kasrah, fathah, dhommah dan syaddah. hal itu menyebabkan banyaknya kesalahan bacaan teks Al-Qur'an dan Hadits di daerah-daerah yang jauh dari Jazirah Arab.

Untuk menghindari kesalahan fatal dalam bacaan Al-Qur'an dan Hadits,Khalifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajarai tata bahasa Arab.
Keberadaan ilmu nahwu diharapkan dapat membantu orang-orang non Arab dalam mempelajari sumber utama ajaran islam, yaitu Al-Qur'an dan Hadits.

4. Bidang Pembangunan 

Khalifah Ali bin Abi Thalib membangun Kota Kuffah secara khusus. Pada awalnya kota Kufah disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu'awiyyah bin Abi Sufyan. Akan tetapi Kota Kufah kemudian berkembang menjadi pusat ilmu tafsir, ilmu hadits,ilmu nahwu dan ilmu pengetahuan lainnya.

Setelah mengamati prestasi, Keempat khalifah(baik Abu Bakar,Umar,Usman dan Ali) memiliki persamaan prestasi pada penyebaran daerah Islam.Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut antara lain:

a. Islam mengajarkan semua sendi kehidupan, baik agama, sosial, politik, ekonomi, dan budaya. 

b. Kewajiban dakwah bagi pemeluknya merupakan pendorong utama bagi para sahabat untuk menyebarkan Islam. 

c. Byzantium dan Persia mulai melemah membuat Islam bisa berkembang dengan cepat.

d. Kebebasan beragama bagi masyarakat di Byzantium membuka peluang untuk mengajarkan ajaran Islam. 

e. Penyebaran Islam dilakukan secara simpatik dengan penuh kedamaian. Kekerasan diperlukan dalam kondisi yang tidak ada pilihan.
f. Bangsa Arab lebih dekat dengan bangsa-bangsa jazirah.

g. Mesir, Syiria, dan Irak merupakan daerah kaya yang ingin membebaskan diri dari penjajahan Romawi dan persia. Sekaligus menjadi penyokong dana dalam menyebarkan Islam.

Politik Sontoloyo dan Politik Genderuwo

Politik Sontoloyo dan Politik Genderuwo

Rasanya belum usai kehebohan tentang pernyataan Jokowi tentang “Politik Sontoloyo”, kini Presiden kembali membikin pernyataan yang tak kalah seru, kali ini dengan membawa embel-embel salah satu makhluk dari bangsa demit: “Politik genderuwo”.

Pernyataannya tentang politik genderuwo itu ia katakan saat ia berpidato dalam acara pembagian sertifikat tanah di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Jumat, 9 November 2018 lalu.“Jangan sampai karena pilihan bupati, gubernur, presiden, ada yang tidak saling sapa dengan tetangga. Ada yang tidak saling sapa antarkampung,antardesa, tidak rukun antarkampung,” ujar Jokowi.“Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan, kekhawatiran ditengah-tengah masyarakat luas. 
Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. 

Masyarakat memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga menjadi keragu-raguan ditengah-tengah masyarakat luas,” kata Jokowi. 

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan, itu namanya ‘politik genderuwo’, nakut-nakuti.

”Pernyataannya tentang Politik Genderuwo itu tak pelak langsung memicu kehebohan tersendiri. Di twitter, tagar #PolitikGenderuwo bahkan sempat dalam beberapa waktu menjadi trending topic. Maklum saja, istilah politik genderuwo yang dikatakan oleh Jokowi memang kemudian tampak seperti sebuah sindiran bagi para intelektual politik, utamanya yang berada di kubu yang berlawanan dengan Jokowi.

Banyak yang kemudian mempertanyakan, siapa yang dimaksud oleh Jokowi sebagai pihak yang menggunakan cara “politik genderuwo” seperti yang dikatakan.Bola liar seputar politik genderuwo ini semakin panas ketika banyak pihak mulai angkat bicara dan memberikan penafsirannya masing-masing.

Wakil sekretaris Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Raja Juli Antoni, misalnya. Ia mengatakan:“Politik genderuwo itu seperti menebar pesimisme bahwa Indonesia akan hancur ketika kita sama-sama sedang memperjuangkan bangsa.”Penafsirannya tersebut tentu saja membuat banyak orang merujuk pada sosok Prabowo yang beberapa waktu yang lalu memang sempat membuat pernyataan tentang kemungkinan Indonesia akan bubar tahun 2030.

Tafsiran Raja Juli Antoni itu kemudian semakin diperkuat dengan pernyataan Wakil ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin, Abdul Kadir Karding yang mengatakan ada kemungkinan bahwa Prabowo memang menjadi salah satu pihak yang dimaksud oleh Jokowi.
“Kalau Prabowo sering melontarkan pesimisme, pernyataan yang propaganda terkait hal yang menakutkan, mungkin yang dimaksud salah satunya Pak Prabowo, tapi menurut saya seluruh politisi atau siapa saja yang sering menakut nakuti rakyat itu yang dimaksud pak Jokowi,” ujar Kadir.

Atas pernyataan beberapa tokoh dari kubu Jokowi tersebut, kubu Prabowo pun langsung angkat suara.“Bagaimana mungkin Pak Prabowo dituduh genderuwo. Nggak mungkin. Pak Prabowo itu didukung ulama, habib, dan kiai. Makanya ada Ijtimak Ulama I dan Ijtimak Ulama II yang mendukung Pak Prabowo,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade.Andre bahkan justru memberikan serangan balik. “Rakyat bisa tahu kan siapa yang selama ini takut sama habib? Nah itu yang genderuwo.”Pernyataan Andre kemudian didukung oleh kompatriotnya satu kubu, Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.Suhud mengatakan bahwa sebutan genderuwo justru lebih pantas disematkan pada pemerintah.“Politik genderuwo lebih tepat disematkan ke penguasa. Karena banyak janji-janji kampanye yang tak mampu ditepati sehingga perlu membuat semacam apologi,” ujar Suhud.

 “Salah satu sifat genderuwo itu manipulatif. Genderuwo suka menipu mangsanya untuk menutupi wujud aslinya yang buruk dengan berubah wujud. Karena konon genderuwo bisa menyamar menjadi wujud pihak yang ingin dimangsanya.

”Lantas, siapakah sebenarnya yang genderuwo???Entahlah, tapi yang jelas, baik kubu Jokowi maupun kubu Prabowo keduanya sama-sama sering menebarkan permusuhan yang tentu saja bermuara pada ketakutan. Bahkan kita sendiri sebagai rakyat juga kerap menebarkan permusuhan pada yang lain yang tidak satu kubu dengan kita.Diakui atau tidak, dua kubu sama-saja. Mungkin memang inilah saatnya bagi kita untuk lantang mengatakan: Genderuwo adalah kita.Genderuwo itu bukan Jokowi, bukan pula Prabowo, tapi Gendderuwo adalah kita.

Reaksi Ormas Islam Terkait Pembakaran Bendera HTI

Reaksi Ormas Islam Terkait
Pembakaran Bendera HTI

Sumber Photo:google.com
Goblogid.com- Baru-baru ini,
masyarakat dikejutkan oleh
insiden pembakaran bendera
bertuliskan kalimat tauhid di
Garut, Senin (22/10/2018)
kemarin. Pembakaran
ini terjadi bertepatan peringatan
Hari Santri Nasional yang
memang jatuh setiap tanggal 22
Oktober.

Alhasil, insiden ini pun menuai pro
dan kontra dari publik. Ada yang
mengecam peristiwa tersebut
karena dinilai menyakiti hati umat
Islam di Tanah Air. Ada pula yang menganggap bahwa masalah itu masalah sepele dan tidak perlu dibesar-besarkan.

Organisasi keagamaan terbesar di
Indonesia, yaitu NU,Muhammadiyah,
MUI hingga FPI telah angkat
bicara terkait hal ini.

Oknum Banser yang melakukan
pembakaran terhadap kalimat
lafaz tauhid berhasil ditangkap
oleh jajaran Polda Jawa Barat
bersama Polres Garut. Polisi
langsung bergerak cepat usai
sebuah video pembakaran
bendera kalimat tauhid viral di
media sosial.

Berikut tanggapan dari
Muhammadiyah, NU, FPI dan MUI
terkait pembakaran bendera
tauhid yang diduga dilakukan oleh
oknum Banser di Garut, Senin
(22/10/2018).

Muhammadiyah

Pimpinan Pusat (PP)
Muhammadiyah menyayangkan insiden ini. Melalui
Sekretaris Umum PP
Muhammadiyah, Abdul Mu’ti,
insiden ini tak seharusnya terjadi.
“Aksi itu sudah kebablasan.
Bagaimanapun, itu kalimat
syahadat yang sangat suci dan
mulia,” tegas Abdul Mu’ti dalam
keterangan tertulisnya.

Dirinya kembali menegaskan,
pembakaran ini tak dapat
dibenarkan dengan dalih apa pun,
termasuk dengan alasan bendera
yang dibakar merupakan bendera
dari Hizbut Tahrir Indonesia
(HTI).

“Kalau yang mereka maksudkan
adalah bendera HTI, cukup ditulis
HTI, jangan kalimat tauhid (yang
dibakar, red.),” ujarnya lagi.
Selain itu, Abdul Mu’ti juga
menyoroti dampak yang
ditimbulkan dari insiden
pembakaran ini. Ia berharap agar
pembakaran ini tidak memecah
belah umat beragama.

“Jika memang merasa tindakan
tersebut sebagai pelecehan,
sebaiknya melapor ke polisi dan
menyelesaikan secara hukum,”
lanjut Abdul Mu’ti.

PBNU

Sementara Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU)
cenderung bersikap lebih bijak
dalam menanggapi insiden
pembakaran yang dilakukan oleh
oknum Banser.

Wasekjen PBNU, Masduki Baidlowi
mengatakan jika pihaknya akan
segera melakukan “langkah-
langkah internal organisasi”.
Masduki memaparkan jika Banser
merupakan sayap organisasi
PBNU yang bersifat independen,
walaupun memiliki visi-misi yang
sama dengan organisasi
induknya.

Berbeda dengan Muhammadiyah,
Masduki justru menyampaikan jika HTI merupakan musuh ideologi dari
PBNU.

“Karena HTI membawa ideologi
lain yang dianggap NU
mengancam eksistensi ideologi
negara. Dan itu sangat bahaya.
Maka kita menghadapi dengan
seksama, mulai pengurus besar
sampai ranting, dan kita hadapi
itu sampai kapan pun,”
ungkapnya.

Sekadar diketahui, insiden
pembakaran bendera bertuliskan
kalimat tauhid ini dilakukan
dengan alasan bendera yang
dibakar adalah bendera dari HTI.
“Kalau misalnya ada bendera HTI
dan tulisan syahadat, kalau itu
dibakar dengan berbagai niat,
misalnya dalam rangka
menghormati, saya kira itu bisa
dipahami sebagaimana yang
diutarakan Gus Yaqut. Tapi juga
menimbulkan salah paham. Akan
lebih bagus kalau misalnya, ada
bendera seperti di amankan,kemudian
serahkan ke pihak berwajib dan
tidak ambil langkah yang
menimbulkan langkah
kontroversial,” terang Masduki.

“Kita akan ingatkan, kita akan
bina, kita akan bimbing, semua
kader supaya anak-anak muda,
anggota Ansor itu yang giat,
semangatnya luar biasa. Tapi
bagaimana agar tidak
menimbulkan hal-hal yang
kontroversial antara saudara yang
satu dan yang lain,” ujarnya.

MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI)
sendiri mengeluarkan reaksi yang
Intinya,bahwa permasalahan tersebut tidak perlu disikapi panas. Wakil Ketua Umum
MUI Zainut Tauhid menekankan
pada reaksi publik atas insiden
terbakarnya bendera tauhid
tersebut.
“Tidak perlu dibesar-besarkan dan
dijadikan polemik karena hal
tersebut dapat menimbulkan
kesalahpahaman dan memicu
gesekan,” katanya.

Zainut justru
menganggap pembakaran ini
sebagai sesuatu yang tidak perlu
dipermasalahkan. Ia mengatakan jika
tanggapan yang disertai emosi
hanya akan memicu konflik umat
Islam di Tanah Air.

Melansir pernyataan Ketua Umum
GP Ansor, dia mengatakan
organisasi induk Banser telah
memberikan penjelasan alasan
pembakaran bendera yang
bertuliskan kalimat tauhid oleh
anggotanya.
Persoalan itu dengan tujuan untuk
menghormati dan menjaga agar
tidak terinjak-injak atau terbuang
di tempat yang tidak semestinya.
“Hal tersebut disamakan dengan
perlakuan kita ketika menemukan
potongan sobekan mushaf
Alquran yang dianjurkan untuk
dibakar, jika kita tidak dapat
menjaga atau menyimpannya
dengan baik,” jelas Zainut.

FPI

Dari keempat organisasi Islam
dalam artikel ini, Front Pembela
Islam (FPI) merupakan pemberi
tanggapan terkeras terkait
pembakaran ini(memang dari dulu FPI keras dalam membela yang katanya benar menurutnya).

“Ini tindakan biadab, tidak
beradab mirip gaya PKI, kami
sangat mengecam dan mengutuk
dengan tindakan mereka, apa
mereka tidak tahu di situ ada
kalimat tauhid? Setan apa yang
masuk ke mereka,” tutur juru
bicara FPI Slamet Ma’arif.

Slamet menuntut PBNU sebagai
organisasi induk dari Banser
untuk mengambil tindakan atas
insiden pembakaran ini.

 Selain itu,ia juga mendesak organisasi yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari ini untuk meminta maaf kepada seluruh umat Islam.
“Ini mengarah kepada penodaan
agama, polisi wajib usut dan
tangkap pelakunya,” tegasnya.
Slamet juga tak dapat menerima
alasan yang menyebut jika
pembakaran ini hanya untuk
membakar bendera HTI.
“Kalau bendera HTI itu ada
tulisan HTI-nya. Itu bendera
tauhid kebanggaan Rasulullah
SAW,” tuturnya.

Pandangan Saya(Penulis) menyikapi kejadian ini

Bagi saya(Penulis),pembakaran bendera bertuliskan tauhid itu tidak perlu dibesar-besarkan dan dijadikan sebagai sarana politik.Seluruh Ormas Islam seyogyanya satu tujuan dalam rangka menjaga ukhuwah islamiyyah sebagai bentuk cinta tanah air dan menyatukan kerukunan umat.

Membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid dengan tujuan dan niat baik itu dibenarkan dan tidak perlu justru dijadikan alat pemecah belah umat.Saya yakin,anggota banser yang membakarpun punya niatan baik dan tidak ada niatan sedikitpun melecehkan kalimatnya tauhid.

Mengacu pada Ka'idah Ushul Fiqih,"Al-umuur bimaqoosidina",yang artinya: setiap sesuatu itu tergantung pada tujuannya,tentunya tindakan anggota banser yang sengaja membakar bendera bertuliskan kalimat tauhid sudah menjelaskan alasannya,karena takut kalau bendera tersebut diinjak-injak tentu malah akan menjadikan salah.Maka membakar bendera atau apapun yang bertuliskan kalimat tauhid sekalipun, kalau niatnya baik itu boleh-boleh saja.Terlebih disisi lain ada kekhawatiran kalau bendera tersebut tidak dibakar maka akan terinjak-injak,tentu saja justru itu akan melecehkan kalimat tauhid.

Saya(Penulis) menilai bahwa sikap MUI dan PBNU perlu dijadikan wacana oleh Ormas lain.Sikap mengayomi,tidak memecah belah umat dan menjaga keutuhan NKRI.Sikap seperti ini yang justru diajarkan Islam dan Rasulnya.Bukan malah gembar-gombor ngakunya paling islam nyatanya sikapnya cenderung memecah belah umat,ini yang justru tidak diajarkan Islam dan Rasulnya.

Kesalahan dari banser  ada namun sedikit,hanya karena bendera tersebut tak diserahkan ke pihak yang berwenang,dan hal inipun banser sudah minta maaf.Ini masalah kecil jangan dijadikan alasan untuk memecah belah umat.

Saya menilai bahwa pernyataan keras dari FPI seharusnya tidak terjadi,hanya saja karena yang membakar itu salah satu dari anggota Ormas yang ideologinya berseberangan sehingga ia mengecam dan membesar-besarkan.
Permasalahan ini jangan ditumpangi politik.


Pengundian nomor urut capres-cawapres 2019



goblogid.com-Jum'at(21-9-2018)KPU telah melakukan pengundian nomor urut capres-cawapres periode 2019,seluruh rakyat Indonesia ikut serta mengikuti hajatan KPU tersebut lewat televisi.Pasangan capres-cawapres Jokowi-Kyai Ma'ruf Amin mendapatkan nomor urut 01,sementara rival politiknya pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno mendapatkan nomor urut 02 meski mengambil undian lebih dulu.

Ada yang menarik yang terlihat dari pasangan capres-cawapres  Jokowi-Kyai Ma'ruf Amin,sebelum Pak Jokowi mengambil nomor undian,tampak Pak Jokowi khusyu'mengamini doa dari Sang Kyai Ma'ruf Amin yang sekaligus menjadi pasangannya.Saya melihat ini Indonesia banget,sebagai tokoh religius Kyai Ma'ruf Amin berdoa dan memasrahkan segala urusannya kepada Yang Kuasa,agar diberi kemudahan nantinya dalam pilpres 2019 nanti.

Menurut Pak Arief Budiman,nomor urut yang sudah diperebutkan dalam undian tersebut nantinya akan akan dituliskan didalam bahan sosialisasi pasangan calon dan dikotak suara.Nantinya pasangan capres Jokowi-Kyai Ma'ruf Amin yang mendapatkan nomor urut 1 akan ditulis dengan nomor 01,sementara pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno yang mendapatkan nomor urut 2 akan ditulis dengan nomor 02.

Acara pengundian yang berlangsung di Gedung KPU,Imam Bonjol,Jakarta Pusat berlangsung sejuk dan penuh keakraban dari kedua pasangan capres-cawapres,meski tampak terlihat sorak gembira dari para pendukung masing-masing.

Dan akhirnya....,siapapun nantinya pasangan capres-cawapres yang terpilih adalah yang terbaik buat Indonesia dan akan membawa Negeri ini lebih maju dan mampu bersaing dengan negara maju lainnya.
Back To Top